Ketika alam sedang murung dan meninggalkan duka di tanah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, sebuah langkah nyata hadir sebagai penawar lara. PT Astra Honda Motor (AHM), bersama jejaring setianya, turun tangan merangkul lebih dari 3.000 jiwa yang terdampak bencana, membawa secercah harapan di tengah masa pemulihan yang menantang.
Nafas Baru bagi Sang Tunggangan
Bagi banyak warga, sepeda motor bukan sekadar mesin, melainkan penyambung nafas ekonomi. Menyadari hal itu, sejak gerbang Desember 2025 dibuka, AHM telah mengerahkan puluhan pos bengkel dan 50 teknisi andal yang tersebar di 11 kecamatan.
Dengan jemari yang cekatan, para teknisi memberikan perawatan, perbaikan, hingga pembersihan secara cuma-cuma. Layanan ini hadir secara dinamis, bergerak lincah menembus wilayah-wilayah yang sulit terjangkau demi memastikan roda kehidupan masyarakat kembali berputar.
Lebih dari Sekadar Mesin: Sebuah Pelukan Kepedulian
Namun, kepedulian AHM tidak berhenti pada deru mesin semata. Di balik duka yang menyelimuti, bantuan kebutuhan pokok mengalir untuk menyambung hidup; dari butiran beras hingga makanan siap saji bagi tawa anak-anak yang sempat meredup.
Lebih jauh lagi, AHM tengah merajut bantuan yang berkelanjutan. Di tanah Sumatera Barat, delapan sumur bor sedang dipersiapkan—sebuah upaya untuk menghadirkan kembali air bersih sebagai sumber kehidupan yang paling mendasar bagi puluhan keluarga.
"Setiap infrastruktur air bersih dan bantuan yang kami salurkan adalah wujud kasih serta semangat Sinergi Bagi Negeri," ungkap Ahmad Muhibbuddin, General Manager Corporate Communication AHM. "Kami berharap inisiatif ini menjadi pemacu semangat bagi saudara-saudara kita untuk bangkit lebih kuat pasca-bencana."
Kolaborasi yang Melampaui Batas
Langkah mulia ini merupakan buah dari kolaborasi erat antara AHM dengan para mitra setianya:
- PT Capella Dinamik Nusantara (Aceh)
- PT Indako Trading Coy (Sumatera Utara)
- PT Hayati Pratama Mandiri & PT Menara Agung (Sumatera Barat)
Bersama-sama, mereka tidak hanya membagikan perlengkapan rumah tangga dan alat ibadah, tetapi juga menyalakan kembali api optimisme. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah bangsa diukur dari seberapa kuat kita saling menggenggam tangan saat badai datang menerjang.

0 comments :