arrow_upward

Mengejar Sawahlunto, Menjemput Rindu di Ujung Senja

Selasa, 16 Juni 2026 : Juni 16, 2026
Ada beberapa tempat yang tak hanya hadir sebagai nama di peta, tetapi juga mampu memanggil hati untuk datang. Bagi saya, Sawahlunto adalah salah satunya.

Setiap kali mendengar nama kota bersejarah itu, jantung seolah berdebar lebih kencang. Ada rasa penasaran yang sulit dijelaskan. Sebuah bisikan kecil dalam hati terus berkata, "Saya harus ke sana!"

Kesempatan itu akhirnya datang saat libur tanggal merah bertepatan dengan agenda Kopdar All Bikers Sawahlunto. Tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk ikut.

 Sayangnya, rencana perjalanan tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Ada urusan keluarga yang harus diselesaikan terlebih dahulu, sehingga keberangkatan dari Kota Bukittinggi terpaksa molor hingga sekitar pukul 15.00 WIB.
Meski waktu sudah sore, semangat untuk menembus jalanan Sumatera Barat tetap menyala. Saya pun menunggangi Honda CB150X dan mulai melaju menuju Baso.

Jalur lintas Bukittinggi-Tanah Datar sore itu cukup menantang. Kondisi jalan di beberapa titik masih kurang bersahabat, dengan lubang-lubang yang mengharuskan pengendara ekstra waspada. Namun, bagi seorang pejalan roda dua, setiap tantangan adalah bagian dari cerita perjalanan.

Sesampainya di Tanah Datar, saya disambut oleh Bro Rizki dari komunitas Boekittinggi Adventure. Ia ternyata sudah cukup lama menunggu kedatangan saya. Setelah berbincang singkat, kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Sawahlunto.

Namun perjalanan kembali memberi kejutan.
Motor Yamaha Byson milik Rizki tiba-tiba mengalami masalah. Kompleng putus dan membuat kami harus singgah ke bengkel terdekat. Waktu terus berjalan, sementara matahari perlahan bergerak menuju ufuk barat. Setelah perbaikan selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan dengan harapan masih bisa bertemu rekan-rekan yang sudah lebih dulu tiba di lokasi kopdar.
Harapan itu akhirnya terwujud, meski dengan sedikit rasa kecewa.


Saat kami tiba di Sawahlunto, sebagian besar peserta yang berangkat sejak pagi sudah mulai membubarkan diri. Langit senja pun perlahan berganti gelap. Waktu yang terbatas membuat saya tidak sempat menikmati pesona Kota Sawahlunto sebagaimana yang selama ini saya impikan.

Namun, perjalanan bukan selalu tentang tujuan. Terkadang yang paling berharga justru adalah orang-orang yang kita temui di sepanjang jalan.

Meski hanya sebentar, saya tetap bisa bersua dengan sahabat-sahabat dari Boekittinggi Adventure. Tawa dan cerita perjalanan menjadi pengobat rasa lelah yang sejak siang menemani.

Sebelum pulang, kami menyempatkan diri singgah di Sikungkang. Di sebuah tempat sederhana bernama Kedai Kak Nora, kami menikmati secangkir kopi hangat dan gorengan yang terasa begitu nikmat setelah perjalanan panjang. Di tengah udara malam yang mulai dingin, obrolan ringan bersama kawan-kawan terasa jauh lebih berharga daripada kemewahan apa pun.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kota Solok. Menjelang magrib, kami berhenti di kawasan Danau Singkarak untuk menunaikan salat. Pemandangan danau yang tenang di bawah langit senja menjadi penutup sempurna bagi petualangan hari itu.

Usai beristirahat sejenak, kami kembali menghidupkan mesin dan melaju menuju Padang Panjang. Jalanan malam yang mulai lengang membuat perjalanan terasa lebih cepat. Sekitar pukul 20.00 WIB kami melintas di Padang Panjang, dan setengah jam kemudian akhirnya tiba kembali di Kota Bukittinggi dengan selamat.

Perjalanan ini memang melelahkan. Saya tidak sempat menikmati Sawahlunto seperti yang diharapkan. Tidak banyak waktu untuk berfoto atau menjelajahi sudut-sudut kota tua yang terkenal itu.

Namun di balik segala keterbatasan, perjalanan ini mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua perjalanan harus sempurna untuk menjadi berkesan.

Kadang, perjalanan terbaik adalah perjalanan yang dipenuhi cerita tak terduga, sahabat yang setia menunggu, motor yang sempat mogok, secangkir kopi hangat di pinggir jalan, serta rasa syukur karena bisa kembali pulang dengan selamat.

Dan Sawahlunto?
Saya yakin suatu hari nanti akan kembali ke sana. Bukan sekadar untuk menghadiri kopdar, tetapi untuk benar-benar menikmati setiap sudut kota yang sejak lama membuat hati ini berdebar.

0 comments :